Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2018

Coba aja, deh

Hembusan angin pelan-pelan menerpa wajah kita siang hari itu. Langit mulai mendung, namun kita tetap asik duduk di bangku taman yang sepi sembari menggambar sketsa di buku kita masing-masing. Keheningan menyelimuti kita dengan nyaman, kadang sesekali terpecahkan oleh obrolan singkat. Aku tengah menarik garis untuk membentuk sebuah kaktus saat muncul sebuah pertanyaan di benakku. "Eh, lu jadi ikut himpunan?" Sunyi sebentar. Kemudian kau menjawab, "Gatau." Dahiku mengerenyit. Seingatku, dulu kau sangat yakin bahwa kau tidak mau berpartisipasi dalam organisasi seperti itu. Sampai keyakinanmu menggoyahkan niatku yang tadinya ingin ikut. "Kok gatau?" Kulontarkan pertanyaan itu sembari menarik satu tarikan garis terakhir untuk menyelesaikan gambar kaktusku. Sunyi lagi. Diikuti dengan, "Ya.. Gatau." Keenggananmu untuk memberikan jawaban pasti adalah hal yang telah kuduga, karena sebenarnya aku su...

Little Gestures and a Regret

You are the kind of person that doesn't like physical interaction. I noticed this when we first got to know each other. There was a bug on your shoulder and i tried to shrug it off, but you swatted my hand in annoyance. I was shocked, for i think the reaction was unnecessary. But it made me be more careful from then. It was just one of the things that made you you. But then, as we spend more time together, i noticed another thing. The little gestures you made for me. The little gestures that might have been missed by another person, but not myself. The little gestures that i always noticed and gave me thrills, but also confusion. Like that time when we went to an art exhibition. I was standing in front of one of the artwork in astonishment (i might have zoned out a little too long) and suddenly you put your hand in front of my eyes, snapping me from my train of thoughts, and told me to stop thinking about it too much. After that we were tired and i...

Aku Suka

Aku suka. Membaca buku berkertas kuning yang ada di cafe itu sambil minum coklat panas. Bersamamu. Bosan, berhenti membaca lalu mengobrol singkat. Kembali membaca. Sambil makan kentang. Aku suka. Menunggu kelas sembari duduk di rooftop yang cukup ramai itu. Bersamamu. Duduk dan bertukar kata dengan jarang. Menikmati keheningan. Angin berhembus dengan tenang. Rasa kantuk malah hinggap. Aku suka. Mengunjungi pameran seni yang ada di sudut atas kota. Bersamamu. Berkeliling melihat-lihat. Takjub rasanya. Lalu bertukar pikiran menerka suara hati si pembuat karya. Naik ke lantai teratas, diatas jembatan panjang, melihat seisi kota yang tertimpa matahari senja. Aku suka. Mengerjakan tugas tengah malam. Bersamamu. Ngantuk. Ngantuk. Ngantuk. Alunan lagu dari handphone- mu. Menyanyi dengan keras. Nada-nada sumbang terdengar lantang. Diselangi tawa canda. Aku suka. Aku suka. Bersamamu. Aku suka kamu.

Sketsa Tengah Malam

Duduk berhadap-hadapan Di tengah heningnya malam Dengan pena di masing-masing tangan Membubuhkan guratan demi guratan Mata indahmu, wajah tampanmu, rambut lebatmu kububuhkan Di atas kertas yang kosong tadinya Senyummu pun tak ku lupa Ku gambarkan dengan sisa-sisa pena hitam Mata sayunya, wajah cantiknya, rambut pendeknya kau bubuhkan Di atas kertas yang hampir penuh dengan dirinya Senyumnya pun tak kau lupa Kau gambarkan dengan pena hitam penuh tinta Inilah sketsa tengah malam kita Di mana semua gagasan tumpah diatas kertas Di mana canda tawa lantang dapat terdengar Di mana kadang ku akhiri dengan air mata sunyi senyap.

Malam Ini Saja

Relung dadaku penuh dan sesak. Dengan perasaan yang tidak seharusnya ada. Rasa rindu yang tak kusadari bersembunyi dibalik bayangan. Kali ini memutuskan untuk keluar. Bersamaan dengan air mata. Untuk malam ini saja, aku mengijinkan rasa sedih ini untuk tinggal. Untuk malam ini saja, aku akan terlelap sambil menyembunyikan wajah sembab di balik selimut hangat. Untuk malam ini saja, aku mengakui bahwa aku rindu kamu. Doakan jika Tuhan mengijinkan, esok aku kan terbangun dalam lupa.

Tolong,

Aku ingin meminta tolong kepadamu. Tolong, jangan tatap aku dengan matamu yang selalu ikut tersenyum bersama dengan bibirmu itu. Jangan seenaknya melontarkan senyum manismu itu di hadapanku ketika kau tersipu malu. Jangan membalas ucapanku dengan kalimat-kalimat cerdas yang membuatku tak bisa menahan tawa. Jangan menunjukan sisi kekanak-kanakanmu kepadaku yang membuatku merasa gemas. Jangan tertawa dengan suaramu yang sangat sangat terdengar merdu di daun telingaku. Jangan mainkan gitarmu itu dengan handal, dan menyanyikan lagu yang membuatku amat terbuai di penghujung malam. Karena semua hal itu membuatku semakin jatuh cinta. Semua hal itu membuatku makin suka. Dan lututku sudah cukup penuh dengan luka yang semakin bertambah tiap kali aku mendarat di tanah pertemanan kita.

Surat Pribadi

Bandung, 16 September 20XX Ditulis un tuk lelaki yang bercita-cita menjadi kodok terbang. Jujur, aku kecewa. Banyak yang ingin kukatakan kepadamu. Hari demi hari kujalani dengan pertanyaan yang semakin menumpuk di gudang pikiranku. Apa kabar? Apa kau sehat? Bagaimana kuliahmu? Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Namun, garis batas pertemanan yang telah kutorehkan seakan menyamarkan pertanyaan-pertanyaan itu. Garis pemisah yang kita torehkan bersama, tepatnya. Garis yang kita torehkan dengan darah kita masing-masing. 1000 hari kita jalani bersama, sejak kita masih muda dan arogan, hingga tumbuh dewasa dan bertambah bijak. Mungkin kedewasaan inilah yang membukakan mata terhadap luka-luka dan memar yang seiring waktu semakin bertambah di lengan, kaki, leher dan hati kita. Di hari itu, ketika aku mengambil pisau itu dan menyayat tanganku, dan menorehkan darah itu menjadi garis diantara kita, aku menatap matamu dan bertanya, apakah ini yang ...

Maaf, lagi.

Jangan tatap aku dengan tatapan menyalahkan seperti itu. Aku malah yang rasanya ingin menyalahkanmu. Gara-gara kelakuanmu yang lucu. Gara-gara kamu yang selalu membuatku tertawa. Rasa itu jadi muncul dengan sendirinya. Obrolan-obrolan kecil menjadi terasa sangat istimewa dan aku ingin meminta maaf karena aku menyukaimu.

Maaf

Satu helaan napas. Dua. Tiga. Aku menengadahkan kepalaku, menatap langit-langit polos yang terlihat membosankan. Pikiranku seketika teralih kepada langit jingga--sore tadi--yang jauh lebih indah. Juga kepadamu. Kepada pertemuan kita sore tadi, tepatnya. Aku ingat, kita bertemu di koridor itu. Aku menghampirimu, lalu kita bercanda tawa, seperti biasanya. Kita tertawa, keras. Apa yang tadi kita tertawakan? Rasanya kini semua sudah samar, aku hanya mengingat suara tawamu yang memanjakan telingaku. Sore tadi, kurasa senang. Namun, kini tidak begitu. Kesendirianku memaksaku untuk dapat jujur pada diriku sendiri. Jujur mengenai apa yang kurasakan, kepadamu. Satu helaan napas. Dua. Tiga. Belum lama kita berteman . Namun aku harap, kita akan terus bisa bersama. Aku ingin terus tertawa. Aku ingin terus bercanda. Aku ingin menjelajahi seisi kota. Bersamamu. Aku juga berharap kau tetap tinggal walau suatu saat kau menyadari bahwa aku menyukaimu.

Kamu Lucu

"Kenapa sih, kalau cewek misalnya nunjuk baju atau benda apapun yang bagus, pasti dibilang 'lucu'?" guraumu, sembari tetap mengguratkan pensilmu diatas kertas putih itu. Aku tertawa. "Masa sih? Gue nggak ngeh ah. Eh, liat desain punya lo dong." Aku berhenti menulis di kertas punyaku dan menerima kertas yang kau sodorkan. Bukannya desain komposisi yang seharusnya dikerjakan, yang ada malah gambar kartun yang sekilas pun kuketahui adalah gambaran dari kita berdua. "Apaan nih, lucu banget! Eh-" "Tuhkan!" Tawa pun meledak diantara kita. Akupun mengakui, perkataanmu mungkin ada benarnya juga. Kemudian, kita malah jadi sering menggunakan kata itu. Kucing hamil yang tengah tertidur di kursi itu lucu. Catatan kuliah yang kubuat di buku itu lucu. Lagu yang diputar dari handphone- mu itu lucu. Senang rasanya, obrolan kita bisa nyambung dengan mudah. Tapi aku salah menduga. Obrolan kita ternyata tida...

Hi, Everyone

Selamat Malam. Ini adalah ruang dimana mulut berteriak dalam kesunyian, dan hati tersayat lebar menumpahkan segumpal kejujuran. Bukan pengertian yang aku inginkan, melainkan siratan makna yang sengaja tak terucapkan. Semoga tulisan-tulisan ini dapat sampai ke hati siapapun yang membacanya, dan menyampaikan cara belajar untuk jujur walau dengan perlahan. Selamat membaca.