Skip to main content

Surat Pribadi

Bandung, 16 September 20XX


Ditulis untuk lelaki yang bercita-cita menjadi kodok terbang.

Jujur, aku kecewa.

Banyak yang ingin kukatakan kepadamu. Hari demi hari kujalani dengan pertanyaan yang semakin menumpuk di gudang pikiranku. Apa kabar? Apa kau sehat? Bagaimana kuliahmu? Apa yang sedang kau lakukan sekarang?

Namun, garis batas pertemanan yang telah kutorehkan seakan menyamarkan pertanyaan-pertanyaan itu. Garis pemisah yang kita torehkan bersama, tepatnya. Garis yang kita torehkan dengan darah kita masing-masing.

1000 hari kita jalani bersama, sejak kita masih muda dan arogan, hingga tumbuh dewasa dan bertambah bijak. Mungkin kedewasaan inilah yang membukakan mata terhadap luka-luka dan memar yang seiring waktu semakin bertambah di lengan, kaki, leher dan hati kita.

Di hari itu, ketika aku mengambil pisau itu dan menyayat tanganku, dan menorehkan darah itu menjadi garis diantara kita, aku menatap matamu dan bertanya, apakah ini yang terbaik? Tapi maaf, saat itu aku sudah tau jawabannya. Darah ini adalah yang terakhir diantara kita.

Yang tak kusangka adalah kau yang menundukan kepala dan menggelengkan kepalamu, pelan. Namun, ketika aku mengikuti arah pandangmu, aku bisa melihat jejak-jejak garis dan tetesan darah yang sudah ada sejak lama. Terhapuskan, tertorehkan. Terhapuskan, tertorehkan. Hingga tanah yang berada dibawah kaki kita sudah kusam dan anyir.

Selain itu, sautan-sautan nama yang terdengar dari belakang punggungku--memanggil namaku dengan ajakan lantang--membuat semua keraguanku sirna, cepat. Akupun menorehkan garis itu dengan yakin, dan memberikan pisau itu kepadamu. Lalu kau melakukan hal yang sama, tidak kalah yakinnya. Dalam benak ku tertawa, selalu saja malu untuk menunjukan rasa, tidak berubah seperti biasanya.

Satu lirikan terakhir sebelum aku membalikkan badan, aku hanya dapat melontarkan doa-doa sunyi kepadamu. Aku harap kau tetap bisa menjaga dirimu tanpa aku di sampingmu. Jangan lupa makan tiga kali sehari. Jangan lupa istirahat. Jangan paksakan dirimu kalau sudah lelah. Jangan berkendara kalau kau sedang mengantuk. Ah, kebiasaan itu masih sulit ku hilangkan. Tapi, kau sudah besar, bukan? Tak seharusnya ku ingatkan lagi.

Itu sebabnya harusnya kau mengerti betapa aku kecewa ketika mendengar, walau dari pihak ketiga, bahwa kau mulai berjalan ke arah yang tidak seharusnya. Aku dengar, kau jadi senang merokok sekarang. Bukankah kau tau, seberapa bahayanya zat yang kau hirup itu? Bagaimana itu akan merusak kesehatanmu secara cepat juga perlahan? Bagaimana itu akan membuat orang tuamu kecewa? Apa kau lupa bahwa itu adalah hal yang paling kubenci?

Ingin rasanya kurebut dan kuinjak batang-batang sialan itu. Namun garis merah itu selalu menahanku. Mungkin kekecewaanku adalah efek dari kebiasaan yang belum sanggup kuhilangkan. Lagipula, aku tidak punya hak untuk mengatur semua keputusanmu, bukan?

Aku hanya berharap semoga kau tidak hilang. Aku berharap kau mendengar doaku yang selalu meminta akan kesehatan dan kebahagiaanmu. Dan aku ingin suatu saat nanti, kita bertemu di puncak, dengan senyum rindu terpampang di wajah dan bekas-bekas luka yang sudah lama menghilang, tak terlihat oleh mata telanjang.

Aku akan selalu mengharapkan semua yang terbaik untukmu. 1000 hari tidaklah singkat. Aku kenal kamu. Kamu kenal aku. Dan kita berdua sama-sama tau bahwa kau pantas untuk mendapatkan semua itu.

Ah, mungkin surat ini sudah cukup panjang. Aku akhiri dulu. Selamat membaca surat yang tak akan pernah sampai ini, ya.

Dari perempuan yang tidak senang dipanggil 'putri'



P.s surat ini bukanlah penanda aku yang ingin kembali ke pelukanmu, melainkan pengingat bahwa relung dadaku masih menyisihkan sedikit kepedulian yang dulu kita bagi bersama.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Everyone

Selamat Malam. Ini adalah ruang dimana mulut berteriak dalam kesunyian, dan hati tersayat lebar menumpahkan segumpal kejujuran. Bukan pengertian yang aku inginkan, melainkan siratan makna yang sengaja tak terucapkan. Semoga tulisan-tulisan ini dapat sampai ke hati siapapun yang membacanya, dan menyampaikan cara belajar untuk jujur walau dengan perlahan. Selamat membaca.

Untukmu dan Langit Jingga

Selamat pagi untuk kamu yang sedang terduduk disana. Melepas penat sehabis menjelajah seisi kota. Bertiga mengapresiasi karya-karya, bersama dia dan rasa. Tersenyum sendiri bak remaja jatuh cinta. Memang, katanya. Mengingat-ngingat semua memori yang ada, ketakutan untuk lupa, sembari bersenandung nada yang tadi sempat dinyanyikan bersama. Selamat siang untuk kamu yang tengah kasmaran. Mentranslasikan semua tindakannya dengan semena-mena. Terlalu dibutakan dengan rasa yang berbunga-bunga. Hingga jurang tak tampak di depan mata. Tidak ada ekspektasi tuk kecewa. Selamat sore untuk kamu yang sekarang tengah menangis. Menangisi momen yang telah hilang terbawa angin. Tersedu-sedu terpuruk menyalahkan diri sendiri. Bertanya-tanya apa yang salah, apa yang terlewati. Berharap waktu dapat terulang lagi, walau tahu betul mustahil. Selamat malam kamu yang kini telah berjalan pergi. Meninggalkan perasaan walau dengan berat hati. Menghampiri dirinya dengan senyum seak...

Kamu Lucu

"Kenapa sih, kalau cewek misalnya nunjuk baju atau benda apapun yang bagus, pasti dibilang 'lucu'?" guraumu, sembari tetap mengguratkan pensilmu diatas kertas putih itu. Aku tertawa. "Masa sih? Gue nggak ngeh ah. Eh, liat desain punya lo dong." Aku berhenti menulis di kertas punyaku dan menerima kertas yang kau sodorkan. Bukannya desain komposisi yang seharusnya dikerjakan, yang ada malah gambar kartun yang sekilas pun kuketahui adalah gambaran dari kita berdua. "Apaan nih, lucu banget! Eh-" "Tuhkan!" Tawa pun meledak diantara kita. Akupun mengakui, perkataanmu mungkin ada benarnya juga. Kemudian, kita malah jadi sering menggunakan kata itu. Kucing hamil yang tengah tertidur di kursi itu lucu. Catatan kuliah yang kubuat di buku itu lucu. Lagu yang diputar dari handphone- mu itu lucu. Senang rasanya, obrolan kita bisa nyambung dengan mudah. Tapi aku salah menduga. Obrolan kita ternyata tida...