Skip to main content

Posts

Untukmu dan Langit Jingga

Selamat pagi untuk kamu yang sedang terduduk disana. Melepas penat sehabis menjelajah seisi kota. Bertiga mengapresiasi karya-karya, bersama dia dan rasa. Tersenyum sendiri bak remaja jatuh cinta. Memang, katanya. Mengingat-ngingat semua memori yang ada, ketakutan untuk lupa, sembari bersenandung nada yang tadi sempat dinyanyikan bersama. Selamat siang untuk kamu yang tengah kasmaran. Mentranslasikan semua tindakannya dengan semena-mena. Terlalu dibutakan dengan rasa yang berbunga-bunga. Hingga jurang tak tampak di depan mata. Tidak ada ekspektasi tuk kecewa. Selamat sore untuk kamu yang sekarang tengah menangis. Menangisi momen yang telah hilang terbawa angin. Tersedu-sedu terpuruk menyalahkan diri sendiri. Bertanya-tanya apa yang salah, apa yang terlewati. Berharap waktu dapat terulang lagi, walau tahu betul mustahil. Selamat malam kamu yang kini telah berjalan pergi. Meninggalkan perasaan walau dengan berat hati. Menghampiri dirinya dengan senyum seak...
Recent posts

Peduli

Tak mampu berkata Aku telah lupa Namun kenangan Tak tinggal lama Seperti rasa Yang terus, terus, terus Dipendam Tak mampu bilang Aku tak apa Saat menatapmu dan dia Dan yang kita lalu Makin hilang Tak mampu berjanji Aku kan berhenti Ketika bahkan Tawamu saja Buatku jatuh lagi. Tak mampu berjanji Aku tak kan menangis Ketika bahkan Kau tiada Peduli.

A Pair of Masochists

A pair of masochists Walking hand in hand With sharp blades between their hands Blood dripping along the way A pair of masochist Holding each other so tightly With long sword piercing eachother's back Ribs cracking, desperately gasping for air A pair of masochist The familiar smell of blood Hovering above the air But not in an unpleasant way A pair of masochist Cries of agony Throwing all the perfect sense To the furthest corner of the brain A pair of masochist Constantly killing each other But neither of them Wanted to let go.

Dorman

Kira rasa yang telah mati, Bunga mawar layu di taman sepi, N yatanya hati, Pohon mapel  di musim dingin. Dingin, dingin, dingin. Air mata bagai daun gugur tanpa henti, Aku telah Mati, Aku telah berhenti. Ingin mengumpat kala musim semi, Datang tak diundang mengusir sepi, Daun-daun jatuh tumbuh kembali, Bagai orang bodoh, semua terulang lagi. Lupa ingatan tentang musim dingin, Senyummu muncul terus dalam mimpi, Tawa indahmu bergaung tanpa henti, Wajahmu membekas dalam rongga hati. Lupa ingatan tentang musim dingin, Dirimu yang tak dapat kudapati, Membuka luka-luka lama itu lagi, Tolong, Buat semua ini berhenti.

Garhana

18 Mei 2019, Ketika sinar ungu menerpa wajah kita, dan gemuruh musik membuat tak kuasa mendengar. Kita berada di antara keramaian, namun hanya berdua yang kurasa. Hanya terdiam tak berkata, suara jantung bagai lagu tak kalah keras. Perlu ku berteriak di telingamu agar kau mendengar. "Suka lagu kaya gini?" "Nggak." S etuju. Entah mengapa kita tetap terdiam di sana sampai lirik terakhir, mungkin, menikmati lagu tentang cinta bukanlah satu-satunya alasan kita berdiri di sini.

If Only I Knew

Our last hug that night was so sincere I fell in love all over again How i wished i have held on forever Knowing that it was where Every last drop of your love for me was poured in to.

Coba aja, deh

Hembusan angin pelan-pelan menerpa wajah kita siang hari itu. Langit mulai mendung, namun kita tetap asik duduk di bangku taman yang sepi sembari menggambar sketsa di buku kita masing-masing. Keheningan menyelimuti kita dengan nyaman, kadang sesekali terpecahkan oleh obrolan singkat. Aku tengah menarik garis untuk membentuk sebuah kaktus saat muncul sebuah pertanyaan di benakku. "Eh, lu jadi ikut himpunan?" Sunyi sebentar. Kemudian kau menjawab, "Gatau." Dahiku mengerenyit. Seingatku, dulu kau sangat yakin bahwa kau tidak mau berpartisipasi dalam organisasi seperti itu. Sampai keyakinanmu menggoyahkan niatku yang tadinya ingin ikut. "Kok gatau?" Kulontarkan pertanyaan itu sembari menarik satu tarikan garis terakhir untuk menyelesaikan gambar kaktusku. Sunyi lagi. Diikuti dengan, "Ya.. Gatau." Keenggananmu untuk memberikan jawaban pasti adalah hal yang telah kuduga, karena sebenarnya aku su...