Selamat pagi untuk kamu yang sedang terduduk disana. Melepas penat sehabis menjelajah seisi kota. Bertiga mengapresiasi karya-karya, bersama dia dan rasa. Tersenyum sendiri bak remaja jatuh cinta. Memang, katanya. Mengingat-ngingat semua memori yang ada, ketakutan untuk lupa, sembari bersenandung nada yang tadi sempat dinyanyikan bersama. Selamat siang untuk kamu yang tengah kasmaran. Mentranslasikan semua tindakannya dengan semena-mena. Terlalu dibutakan dengan rasa yang berbunga-bunga. Hingga jurang tak tampak di depan mata. Tidak ada ekspektasi tuk kecewa. Selamat sore untuk kamu yang sekarang tengah menangis. Menangisi momen yang telah hilang terbawa angin. Tersedu-sedu terpuruk menyalahkan diri sendiri. Bertanya-tanya apa yang salah, apa yang terlewati. Berharap waktu dapat terulang lagi, walau tahu betul mustahil. Selamat malam kamu yang kini telah berjalan pergi. Meninggalkan perasaan walau dengan berat hati. Menghampiri dirinya dengan senyum seak...
Tak mampu berkata Aku telah lupa Namun kenangan Tak tinggal lama Seperti rasa Yang terus, terus, terus Dipendam Tak mampu bilang Aku tak apa Saat menatapmu dan dia Dan yang kita lalu Makin hilang Tak mampu berjanji Aku kan berhenti Ketika bahkan Tawamu saja Buatku jatuh lagi. Tak mampu berjanji Aku tak kan menangis Ketika bahkan Kau tiada Peduli.