Satu helaan napas. Dua. Tiga.
Aku menengadahkan kepalaku, menatap langit-langit polos yang terlihat membosankan. Pikiranku seketika teralih kepada langit jingga--sore tadi--yang jauh lebih indah. Juga kepadamu. Kepada pertemuan kita sore tadi, tepatnya.
Aku ingat, kita bertemu di koridor itu. Aku menghampirimu, lalu kita bercanda tawa, seperti biasanya. Kita tertawa, keras. Apa yang tadi kita tertawakan? Rasanya kini semua sudah samar, aku hanya mengingat suara tawamu yang memanjakan telingaku.
Sore tadi, kurasa senang. Namun, kini tidak begitu. Kesendirianku memaksaku untuk dapat jujur pada diriku sendiri. Jujur mengenai apa yang kurasakan, kepadamu.
Satu helaan napas. Dua. Tiga.
Belum lama kita berteman. Namun aku harap, kita akan terus bisa bersama. Aku ingin terus tertawa. Aku ingin terus bercanda. Aku ingin menjelajahi seisi kota. Bersamamu.
Aku juga berharap kau tetap tinggal walau suatu saat kau menyadari bahwa aku menyukaimu.
Comments
Post a Comment