Skip to main content

Maaf

Satu helaan napas. Dua. Tiga.

Aku menengadahkan kepalaku, menatap langit-langit polos yang terlihat membosankan. Pikiranku seketika teralih kepada langit jingga--sore tadi--yang jauh lebih indah. Juga kepadamu. Kepada pertemuan kita sore tadi, tepatnya.

Aku ingat, kita bertemu di koridor itu. Aku menghampirimu, lalu kita bercanda tawa, seperti biasanya. Kita tertawa, keras. Apa yang tadi kita tertawakan? Rasanya kini semua sudah samar, aku hanya mengingat suara tawamu yang memanjakan telingaku.

Sore tadi, kurasa senang. Namun, kini tidak begitu. Kesendirianku memaksaku untuk dapat jujur pada diriku sendiri. Jujur mengenai apa yang kurasakan, kepadamu.

Satu helaan napas. Dua. Tiga.

Belum lama kita berteman. Namun aku harap, kita akan terus bisa bersama. Aku ingin terus tertawa. Aku ingin terus bercanda. Aku ingin menjelajahi seisi kota. Bersamamu.

Aku juga berharap kau tetap tinggal walau suatu saat kau menyadari bahwa aku menyukaimu.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Everyone

Selamat Malam. Ini adalah ruang dimana mulut berteriak dalam kesunyian, dan hati tersayat lebar menumpahkan segumpal kejujuran. Bukan pengertian yang aku inginkan, melainkan siratan makna yang sengaja tak terucapkan. Semoga tulisan-tulisan ini dapat sampai ke hati siapapun yang membacanya, dan menyampaikan cara belajar untuk jujur walau dengan perlahan. Selamat membaca.

Untukmu dan Langit Jingga

Selamat pagi untuk kamu yang sedang terduduk disana. Melepas penat sehabis menjelajah seisi kota. Bertiga mengapresiasi karya-karya, bersama dia dan rasa. Tersenyum sendiri bak remaja jatuh cinta. Memang, katanya. Mengingat-ngingat semua memori yang ada, ketakutan untuk lupa, sembari bersenandung nada yang tadi sempat dinyanyikan bersama. Selamat siang untuk kamu yang tengah kasmaran. Mentranslasikan semua tindakannya dengan semena-mena. Terlalu dibutakan dengan rasa yang berbunga-bunga. Hingga jurang tak tampak di depan mata. Tidak ada ekspektasi tuk kecewa. Selamat sore untuk kamu yang sekarang tengah menangis. Menangisi momen yang telah hilang terbawa angin. Tersedu-sedu terpuruk menyalahkan diri sendiri. Bertanya-tanya apa yang salah, apa yang terlewati. Berharap waktu dapat terulang lagi, walau tahu betul mustahil. Selamat malam kamu yang kini telah berjalan pergi. Meninggalkan perasaan walau dengan berat hati. Menghampiri dirinya dengan senyum seak...

Kamu Lucu

"Kenapa sih, kalau cewek misalnya nunjuk baju atau benda apapun yang bagus, pasti dibilang 'lucu'?" guraumu, sembari tetap mengguratkan pensilmu diatas kertas putih itu. Aku tertawa. "Masa sih? Gue nggak ngeh ah. Eh, liat desain punya lo dong." Aku berhenti menulis di kertas punyaku dan menerima kertas yang kau sodorkan. Bukannya desain komposisi yang seharusnya dikerjakan, yang ada malah gambar kartun yang sekilas pun kuketahui adalah gambaran dari kita berdua. "Apaan nih, lucu banget! Eh-" "Tuhkan!" Tawa pun meledak diantara kita. Akupun mengakui, perkataanmu mungkin ada benarnya juga. Kemudian, kita malah jadi sering menggunakan kata itu. Kucing hamil yang tengah tertidur di kursi itu lucu. Catatan kuliah yang kubuat di buku itu lucu. Lagu yang diputar dari handphone- mu itu lucu. Senang rasanya, obrolan kita bisa nyambung dengan mudah. Tapi aku salah menduga. Obrolan kita ternyata tida...