Skip to main content

Sketsa Tengah Malam

Duduk berhadap-hadapan

Di tengah heningnya malam

Dengan pena di masing-masing tangan

Membubuhkan guratan demi guratan


Mata indahmu, wajah tampanmu, rambut lebatmu kububuhkan

Di atas kertas yang kosong tadinya

Senyummu pun tak ku lupa

Ku gambarkan dengan sisa-sisa pena hitam


Mata sayunya, wajah cantiknya, rambut pendeknya kau bubuhkan

Di atas kertas yang hampir penuh dengan dirinya

Senyumnya pun tak kau lupa

Kau gambarkan dengan pena hitam penuh tinta


Inilah sketsa tengah malam kita

Di mana semua gagasan tumpah diatas kertas

Di mana canda tawa lantang dapat terdengar

Di mana kadang ku akhiri dengan air mata sunyi senyap.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Everyone

Selamat Malam. Ini adalah ruang dimana mulut berteriak dalam kesunyian, dan hati tersayat lebar menumpahkan segumpal kejujuran. Bukan pengertian yang aku inginkan, melainkan siratan makna yang sengaja tak terucapkan. Semoga tulisan-tulisan ini dapat sampai ke hati siapapun yang membacanya, dan menyampaikan cara belajar untuk jujur walau dengan perlahan. Selamat membaca.

Untukmu dan Langit Jingga

Selamat pagi untuk kamu yang sedang terduduk disana. Melepas penat sehabis menjelajah seisi kota. Bertiga mengapresiasi karya-karya, bersama dia dan rasa. Tersenyum sendiri bak remaja jatuh cinta. Memang, katanya. Mengingat-ngingat semua memori yang ada, ketakutan untuk lupa, sembari bersenandung nada yang tadi sempat dinyanyikan bersama. Selamat siang untuk kamu yang tengah kasmaran. Mentranslasikan semua tindakannya dengan semena-mena. Terlalu dibutakan dengan rasa yang berbunga-bunga. Hingga jurang tak tampak di depan mata. Tidak ada ekspektasi tuk kecewa. Selamat sore untuk kamu yang sekarang tengah menangis. Menangisi momen yang telah hilang terbawa angin. Tersedu-sedu terpuruk menyalahkan diri sendiri. Bertanya-tanya apa yang salah, apa yang terlewati. Berharap waktu dapat terulang lagi, walau tahu betul mustahil. Selamat malam kamu yang kini telah berjalan pergi. Meninggalkan perasaan walau dengan berat hati. Menghampiri dirinya dengan senyum seak...

Kamu Lucu

"Kenapa sih, kalau cewek misalnya nunjuk baju atau benda apapun yang bagus, pasti dibilang 'lucu'?" guraumu, sembari tetap mengguratkan pensilmu diatas kertas putih itu. Aku tertawa. "Masa sih? Gue nggak ngeh ah. Eh, liat desain punya lo dong." Aku berhenti menulis di kertas punyaku dan menerima kertas yang kau sodorkan. Bukannya desain komposisi yang seharusnya dikerjakan, yang ada malah gambar kartun yang sekilas pun kuketahui adalah gambaran dari kita berdua. "Apaan nih, lucu banget! Eh-" "Tuhkan!" Tawa pun meledak diantara kita. Akupun mengakui, perkataanmu mungkin ada benarnya juga. Kemudian, kita malah jadi sering menggunakan kata itu. Kucing hamil yang tengah tertidur di kursi itu lucu. Catatan kuliah yang kubuat di buku itu lucu. Lagu yang diputar dari handphone- mu itu lucu. Senang rasanya, obrolan kita bisa nyambung dengan mudah. Tapi aku salah menduga. Obrolan kita ternyata tida...