Skip to main content

Coba aja, deh

Hembusan angin pelan-pelan menerpa wajah kita siang hari itu. Langit mulai mendung, namun kita tetap asik duduk di bangku taman yang sepi sembari menggambar sketsa di buku kita masing-masing. Keheningan menyelimuti kita dengan nyaman, kadang sesekali terpecahkan oleh obrolan singkat.

Aku tengah menarik garis untuk membentuk sebuah kaktus saat muncul sebuah pertanyaan di benakku.

"Eh, lu jadi ikut himpunan?"

Sunyi sebentar. Kemudian kau menjawab, "Gatau."

Dahiku mengerenyit. Seingatku, dulu kau sangat yakin bahwa kau tidak mau berpartisipasi dalam organisasi seperti itu. Sampai keyakinanmu menggoyahkan niatku yang tadinya ingin ikut.

"Kok gatau?" Kulontarkan pertanyaan itu sembari menarik satu tarikan garis terakhir untuk menyelesaikan gambar kaktusku.

Sunyi lagi. Diikuti dengan, "Ya.. Gatau."

Keenggananmu untuk memberikan jawaban pasti adalah hal yang telah kuduga, karena sebenarnya aku sudah tau alasanmu yang kini kebingungan untuk ikut atau tidak.

"Hmmm, dulu aja lu yakin gamau ikut. Kayanya gua tau motivasi lu kenapa tiba-tiba mau ikut."

Perkataanku sukses membuatmu tertawa dan memberi keyakinan terhadap dugaanku. Aku hanya mampu terkekeh pelan sembari mulai menggambar kaktusku yang kedua.

Perempuan itu.

Perempuan cantik bermata sayu dan berambut pendek yang mampu memikatmu dengan sekali pandang. Perempuan yang tak sengaja berpapasan denganmu kala itu dan segera melekat di otakmu hingga detik ini. Perempuan yang ternyata merupakan kaka tingkat kita dan ikut serta dalam himpunan.

Dialah alasan kenapa keyakinanmu menjadi goyah.

"Iya kan?" Aku bertanya lagi sembari tertular tawamu, sambil diam-diam merasakan perih yang mulai menjalar keluar dari dada. Untungnya senyumku masih mampu berbohong dengan lihai.

Kau tidak memberikan jawaban pasti. Kau hanya berkata, "Yah, ketika lu suka sama seseorang, lu bisa melakukan hal-hal yang mustahil," sambil melontarkan senyum khasmu yang sudah sering muncul di mimpiku itu.

Kaktus keduaku telah selesai. Kumulai membuat yang ketiga, sambil pura-pura tertarik denganmu yang hendak memulai percakapan filosofis.

"Masa, sih?" Tanyaku.

Kau mengangguk antusias. Tiba-tiba, awan abu-abu diatas kepala kita menumpahkan air matanya ke bumi. Diiringi dengan suara lirihmu yang berkata,

"Coba aja, deh."

Aku selesai membuat kaktus yang ketiga.

Hujan semakin deras bersamaan dengan semakin tebalnya selimut keheningan diantara kita, dan aku tidak pernah menanggapi omonganmu kala itu.

Percayalah, tanpa kau suruh pun aku sudah tau persis tentang rasa itu.


Comments

Popular posts from this blog

Hi, Everyone

Selamat Malam. Ini adalah ruang dimana mulut berteriak dalam kesunyian, dan hati tersayat lebar menumpahkan segumpal kejujuran. Bukan pengertian yang aku inginkan, melainkan siratan makna yang sengaja tak terucapkan. Semoga tulisan-tulisan ini dapat sampai ke hati siapapun yang membacanya, dan menyampaikan cara belajar untuk jujur walau dengan perlahan. Selamat membaca.

Untukmu dan Langit Jingga

Selamat pagi untuk kamu yang sedang terduduk disana. Melepas penat sehabis menjelajah seisi kota. Bertiga mengapresiasi karya-karya, bersama dia dan rasa. Tersenyum sendiri bak remaja jatuh cinta. Memang, katanya. Mengingat-ngingat semua memori yang ada, ketakutan untuk lupa, sembari bersenandung nada yang tadi sempat dinyanyikan bersama. Selamat siang untuk kamu yang tengah kasmaran. Mentranslasikan semua tindakannya dengan semena-mena. Terlalu dibutakan dengan rasa yang berbunga-bunga. Hingga jurang tak tampak di depan mata. Tidak ada ekspektasi tuk kecewa. Selamat sore untuk kamu yang sekarang tengah menangis. Menangisi momen yang telah hilang terbawa angin. Tersedu-sedu terpuruk menyalahkan diri sendiri. Bertanya-tanya apa yang salah, apa yang terlewati. Berharap waktu dapat terulang lagi, walau tahu betul mustahil. Selamat malam kamu yang kini telah berjalan pergi. Meninggalkan perasaan walau dengan berat hati. Menghampiri dirinya dengan senyum seak...

Kamu Lucu

"Kenapa sih, kalau cewek misalnya nunjuk baju atau benda apapun yang bagus, pasti dibilang 'lucu'?" guraumu, sembari tetap mengguratkan pensilmu diatas kertas putih itu. Aku tertawa. "Masa sih? Gue nggak ngeh ah. Eh, liat desain punya lo dong." Aku berhenti menulis di kertas punyaku dan menerima kertas yang kau sodorkan. Bukannya desain komposisi yang seharusnya dikerjakan, yang ada malah gambar kartun yang sekilas pun kuketahui adalah gambaran dari kita berdua. "Apaan nih, lucu banget! Eh-" "Tuhkan!" Tawa pun meledak diantara kita. Akupun mengakui, perkataanmu mungkin ada benarnya juga. Kemudian, kita malah jadi sering menggunakan kata itu. Kucing hamil yang tengah tertidur di kursi itu lucu. Catatan kuliah yang kubuat di buku itu lucu. Lagu yang diputar dari handphone- mu itu lucu. Senang rasanya, obrolan kita bisa nyambung dengan mudah. Tapi aku salah menduga. Obrolan kita ternyata tida...