Selamat pagi untuk kamu yang sedang terduduk disana. Melepas penat sehabis menjelajah seisi kota. Bertiga mengapresiasi karya-karya, bersama dia dan rasa. Tersenyum sendiri bak remaja jatuh cinta. Memang, katanya. Mengingat-ngingat semua memori yang ada, ketakutan untuk lupa, sembari bersenandung nada yang tadi sempat dinyanyikan bersama.
Selamat siang untuk kamu yang tengah kasmaran. Mentranslasikan semua tindakannya dengan semena-mena. Terlalu dibutakan dengan rasa yang berbunga-bunga. Hingga jurang tak tampak di depan mata. Tidak ada ekspektasi tuk kecewa.
Selamat sore untuk kamu yang sekarang tengah menangis. Menangisi momen yang telah hilang terbawa angin. Tersedu-sedu terpuruk menyalahkan diri sendiri. Bertanya-tanya apa yang salah, apa yang terlewati. Berharap waktu dapat terulang lagi, walau tahu betul mustahil.
Selamat malam kamu yang kini telah berjalan pergi. Meninggalkan perasaan walau dengan berat hati. Menghampiri dirinya dengan senyum seakan tidak ada yang terjadi. Walau kadang menengok ke belakang dan mengenang rasa yang sudah mati.
.
Selamat tinggal,
Untukmu yang tak lepas dari pikiranku selama 365 hari. Aku di sini dengan rasa yang tak punya eksistensi telah memutuskan untuk berhenti. Karena aku kelelahan mengejarmu yang tak kunjung berhenti. Mengejar sosok lain yang tidak kuketahui dan mungkin juga sibuk mengejar mimpi.
Setahun pun cukup untukku membuka mata dan sadar diri. Bahwa memang aku hanya mampu memanipulasi hati milik sendiri. Bahwa berharap kau juga punya rasa yang sama itu mustahil. Dan tidak ada intinya bagiku tuk terus menangis melukai diri.
Selamat tinggal,
Untukmu, sahabatku sendiri, yang telah mewarnai hari-hari. Memberikan pengalaman rasa, dari tawa hingga tangis, yang tak kusangka mampu kudapati. Kuharap kita dapat terus berjalan beriring, kini tanpa rasa yang biasanya menggelitik. Tak apa, aku tak menyesal, malah berterimakasih.
Kan kukenang memori, kini berbeda perspektif dan tak menangis lagi, tiap kulihat langit Jingga di penghujung hari.
Comments
Post a Comment