Skip to main content

Untukmu dan Langit Jingga


Selamat pagi untuk kamu yang sedang terduduk disana. Melepas penat sehabis menjelajah seisi kota. Bertiga mengapresiasi karya-karya, bersama dia dan rasa. Tersenyum sendiri bak remaja jatuh cinta. Memang, katanya. Mengingat-ngingat semua memori yang ada, ketakutan untuk lupa, sembari bersenandung nada yang tadi sempat dinyanyikan bersama.

Selamat siang untuk kamu yang tengah kasmaran. Mentranslasikan semua tindakannya dengan semena-mena. Terlalu dibutakan dengan rasa yang berbunga-bunga. Hingga jurang tak tampak di depan mata. Tidak ada ekspektasi tuk kecewa.

Selamat sore untuk kamu yang sekarang tengah menangis. Menangisi momen yang telah hilang terbawa angin. Tersedu-sedu terpuruk menyalahkan diri sendiri. Bertanya-tanya apa yang salah, apa yang terlewati. Berharap waktu dapat terulang lagi, walau tahu betul mustahil.

Selamat malam kamu yang kini telah berjalan pergi. Meninggalkan perasaan walau dengan berat hati. Menghampiri dirinya dengan senyum seakan tidak ada yang terjadi. Walau kadang menengok ke belakang dan mengenang rasa yang sudah mati.

.

Selamat tinggal,

Untukmu yang tak lepas dari pikiranku selama 365 hari. Aku di sini dengan rasa yang tak punya eksistensi telah memutuskan untuk berhenti. Karena aku kelelahan mengejarmu yang tak kunjung berhenti. Mengejar sosok lain yang tidak kuketahui dan mungkin juga sibuk mengejar mimpi.

Setahun pun cukup untukku membuka mata dan sadar diri. Bahwa memang aku hanya mampu memanipulasi hati milik sendiri. Bahwa berharap kau juga punya rasa yang sama itu mustahil. Dan tidak ada intinya bagiku tuk terus menangis melukai diri.

Selamat tinggal,

Untukmu, sahabatku sendiri, yang telah mewarnai hari-hari. Memberikan pengalaman rasa, dari tawa hingga tangis, yang tak kusangka mampu kudapati. Kuharap kita dapat terus berjalan beriring, kini tanpa rasa yang biasanya menggelitik. Tak apa, aku tak menyesal, malah berterimakasih.


Kan kukenang memori, kini berbeda perspektif dan tak menangis lagi, tiap kulihat langit Jingga di penghujung hari.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Everyone

Selamat Malam. Ini adalah ruang dimana mulut berteriak dalam kesunyian, dan hati tersayat lebar menumpahkan segumpal kejujuran. Bukan pengertian yang aku inginkan, melainkan siratan makna yang sengaja tak terucapkan. Semoga tulisan-tulisan ini dapat sampai ke hati siapapun yang membacanya, dan menyampaikan cara belajar untuk jujur walau dengan perlahan. Selamat membaca.

Kamu Lucu

"Kenapa sih, kalau cewek misalnya nunjuk baju atau benda apapun yang bagus, pasti dibilang 'lucu'?" guraumu, sembari tetap mengguratkan pensilmu diatas kertas putih itu. Aku tertawa. "Masa sih? Gue nggak ngeh ah. Eh, liat desain punya lo dong." Aku berhenti menulis di kertas punyaku dan menerima kertas yang kau sodorkan. Bukannya desain komposisi yang seharusnya dikerjakan, yang ada malah gambar kartun yang sekilas pun kuketahui adalah gambaran dari kita berdua. "Apaan nih, lucu banget! Eh-" "Tuhkan!" Tawa pun meledak diantara kita. Akupun mengakui, perkataanmu mungkin ada benarnya juga. Kemudian, kita malah jadi sering menggunakan kata itu. Kucing hamil yang tengah tertidur di kursi itu lucu. Catatan kuliah yang kubuat di buku itu lucu. Lagu yang diputar dari handphone- mu itu lucu. Senang rasanya, obrolan kita bisa nyambung dengan mudah. Tapi aku salah menduga. Obrolan kita ternyata tida...